Fish

Senin, 01 Agustus 2011

JAMUR Saprolegnia sp PENYEBAB PENYAKIT PADA IKAN

I.                  PENDAHULUAN

Latar Belakang
          Perkembangan budidaya perairan di Indonesia semakin berkembang dari tahun ke tahun, baik budidaya air laut, air payau dan air tawar. Saat ini dengan semakin menurunnya hasil tangkapan dari laut, budidaya ikan menjadi alternatif sebagai penyedia ikan konsumsi yang dibutuhkan masyarakat. Perkembangan budidaya baik budidaya tradisional  maupun budidaya intensif cukup berkembang dimasyarakat terutama budidaya air tawar yang banyak mengembangkan jenis-jenis ikan yang cukup disukai oleh masyarakat antara lain ikan lele, ikan mas, ikan gurame, ikan nila dll. Hal ini didukung dengan tehnologi yang mudah diadopsi sehingga budidaya air tawar secara intensif banyak dikembangkan oleh masyarakat.
               Pada budidaya intensif salah satu kendala yang banyak ditemui adalah terjadinya kemungkinan serangan patogen yang semakin tinggi bila dibandingkan dengan budidaya secara semi intensif dan ekstensif (tradisional). Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain kepadatan tinggi, sisa pakan buatan,  meningkatnya amoniak, kulitas air yang menurun dan sebagainya. Penyakit ikan menurut Sachlan (1972) adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang kehidupan ikan. Dengan demikian timbulnya serangan penyakit di kolam merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme penyakit (Eddy Afrianto dan Evi Liviawati, 1996).
                Salah satu organisme penyakit yang banyak menyerang ikan adalah dari kelompok jamur (fungi).  Menurut Ratentondok.,A, (1985), infeksi oleh jamur dapat menyerang telur ikan, larva ikan, tokolan (juvenil) dan ikan-ikan dewasa. Pada umumnya infeksi terjadi jika ikan mendapat luka baik secara mekanik maupun infeksi oleh parasit yang lain
               Penyakit ikan yang diakibatkan oleh jamur sudah lama diketahui, namun pengetahuan tentang jenis jamur tertentu yang merupakan patogen primer pada suatu jenis penyakit masih relatif tertinggal dibanding dengan penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri maupun virus. Masalah utama yang umum dihadapi antara lain adalah- teknik untuk mendapatkan isolat murni, identifikasi dan menentukan apakah jenis jamur tersebut benar-benar patogen atau hanya jamur saprofitik yang mengambil keuntungan dari suatu luka.
      Kasus penyakit jamur pada ikan di Indonesia umumnya tidak atau belum dianggap serius, karena munculnya kasus tersebut lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan yang buruk, malnutrisi, atau akibat agen penginfeksi primer lain seperti parasit, bakteri dan virus. Beberapa faktor yang memicu terjadinya infeksi jamur antara lain ; penanganan yang kurang baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk/tidak terbuahi, dan kepadatan telur/ikan yang terlalu tinggi.
      Beberapa jenis jamur telah digolongkan sebagai patogen berbahaya karena berpotensi sebagai parasit yang sifat dan daya serangnya dapat mengakibatkan kematian ikan, namun hingga saat ini belum terdeteksi keberadaannya di wilayah Indonesia. Jenis-jenis jamur tersebut adalah Ichthyophonus hofferi (sand paper disease), Branchiomyces sanguinis dan  Branchiomyco Demigrans (Branchiomycosis), Aphanomyces invandans (Epizootic Ulcerative Syndrome) dan A.astaci (Crayfish Plaque) (Nursanto Didik Budi 2007).
               Jenis jamur yang umum dikenal menyerang ikan-ikan peliharaan adalah jamur Saprolegnia sp , Achlya rasemosa, Aphanomyces stellatus, Branchiomyces dll. Di Indonesia pada umumnya ikan-ikan Labirinthici seperti ikan gurame, ikan sepat dan ikan dari family Cyprinidae misalnya ikan Catla catla, Cyprinus carpio apabila terdapat luka pada  tubuhnya maka akan ditumbuhi oleh jamur. Selain itu juga terdapat beberapa jenis jamur yang biasanya menyerang udang yang masih berukuran larva yaitu jenis Lagenidium sp, dan Sirolphidium sp (Rotentondok A., 1985).

Tujuan dan Manfaat Penulisan
              Tujuan penulisan makalah  ini adalah untuk mengetahui ekobiologi  dari jamur jenis Saprolegnia sp termasuk didalamnya ; klasifikasi, morfologi habitat, reproduksi, infeksi, gejala klinis dan pengaruhnya terhadap budidaya ikan air tawar serta cara penanggulangan dan tindakan  pencegahannya. Selain itu tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai tugas terstruktur mata kuliah Mikrobiologi Perairan.
Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai masukan bagi pembudidaya ikan untuk tetap waspada terhadap penyakit yang disebabkan oleh jamur, terutama jamur jenis Saprolegnia sp, serta memberikan informasi tentang strategi pencegahan jamur saprolegnia  sp  pada ikan. Selain itu manfaat  yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah meningkatkan wawasan  dan pemahaman tentang  Saprolegnia sp.
II.               PEMBAHASAN

2.1            Karakteristik Umum Jamur
                Peranan jamur di alam sangat besar, ada yang merugikan, berbahaya maupun yang menguntungkan. Jenis jamur yang non patogen meliputi spesies yang melakukan perombakan bahan-bahan organik, dalam tanah, perusak kayu dan bahan lain ( Jutono, 1975). Dalam Nursanto Didik Budi , (2007) juga dinyatakan bahwa fungsi jamur dalam kehidupan antara lain sebagai pengurai bahan organik (penyubur tanah), sumber antibiotik, vitamin dan asam amino. Sedangkan kerugian yang diakibatkan antara lain dapat menyebabkan penyakit, dan merusak kulit, kayu, kertas dan lain-lain
              Kata jamur berasal dari kata mycotic dari bahasa Yunani "mykes" yang berarti jamur. Karakter dari kelompok organisme ini adalah heterotrophic   dan karakter ini berbeda dengan tanaman hijau yang mampu mensintesa nutrien yang dibutuhkannnya. Jamur memiliki struktur yang lebih komplit dibanding bakteri, karena masing-masing sel jamur memiliki satu atau lebih inti sel. Mampu beradaptasi hampir di segala habitat di muka bumi, dan umumnya menyukai kondisi yang lembab, pH asam, dan sedikit cahaya (Nursanto Didik Budi 2007). Dalam perkembangannya, mycologist membedakan kelompok organisme ini ke dalam 3 (tiga) golongan yaitu jamur, khamir dan kapang. Ciri khas dari golongan jamur adalah memiliki dinding sel dari kitin atau selulose dan tidak berklorofil. Sedangkan kapang umumnya tidak memiliki struktur hypha yang jelas, dan khamir tidak membentuk hypha tetapi membentuk pseudomycelium.
              Sementara itu menurut Srikandi Fardiaz (1992) Jamur/Fungi (jamak) atau fungus (tunggal) diartikan sebagai suatu organisme eukariotik yang mempunyai ciri-ciri ; (1) Mempunyai inti sel (2) Memproduksi spora (3) Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesa (4) Dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual (5) Beberapa mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dengan dinding sel yang mengandung selulosa atau khitin, atau kedua-duanya. Selain itu fungi dapat bersifat parasit (memperoleh makanan dari benda hidup) atau saprofit (memperoleh makanan dari benda mati).  
     Menurut Jutono (1975) jamur adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berklorofil dan belum mempunyai deferensiasi dalam jaringan. Ada pula yang terdiri atas satu sel. Sedangkan  Tjitrosoepomo (1989) menyatakan bahwa jamur umumnya tidak berwarna, sel-selnya mempunyai membrane yang terdiri dari kitin dan bukan selulosa.     Struktur jamur sangat variatif, beberapa jenis jamur terdiri atas satu sel seperti ragi (yeast) dan sebagian lagi terdiri atas lebih dari satu sel yang bergabung menjadi satu membentuk filament panjang atau hypha.  Hypha jamur bercabang ke segala arah dan kumpulan hypha disebut mycelium atau thallus. Hypha dibedakan menjadi dua yaitu (1) bersepta (septate) yang menyerupai buku-buku pada batang bambu, dan (2) tidak bersepta (aseptate). Hypha aseptate sebenarnya juga bersepta, namun karena sangat halus dan rapi sehingga tidak terlihat adanya pembatas. Hypha juga dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu (1) hypha vegetatif/somatik yang menempel di substrat, mampu mengekskresi enzim sebagai pelarut substrat sehingga senyawa komplek dapat terurai untuk diserap. (2) Hypha fertil, keluar  dari hypha vegetatif dan berfungsi dalam proses   reproduksi (Nursanto Didik Budi,2007).

2.2            Klasifikasi Jamur Saprolegnia sp
              Menurut Srikandi Fardiaz (1992), kalsifikasi jamur Saprolegnia sp  selengkapnya adalah sebagai berikut :
Kelas       :   Phycomycetes
Subklas    :   Oomycetes
Bangsa    :   Saprolegniales
Suku       :   Saprolegniaceae
      Marga     :   Saprolegnia
Jenis        :   Saprolegnia sp
Sementara itu menurut (Meyer, F.P., 1991) Klasifikasi Saprolegnia sp adalah: 
      Dunia               :   Prototista
               Phyla                 :   Heterkonta
                Kelas                 :   Oomycotea
               Bangsa              :  Saprolegniales
     Suku                  :   Saprolegniaceae
     Marga                :   Saprolegnia
              Jenis                  :   Saprolegnia spp   
Termasuk kedalam spesies jamur Saprolegnia spp adalah ; Saprolegnia australis, Saprolegnia ferax, Saprolegnia declina, Saprolegnia longicaulis, Saprolegnia mixta, Saprolegnia parasitica, Saprolegnia sporongium,  Saprolegnia variabilis.
              Jamur Saprolegnia sp termasuk kedalam Klas Phycomycetes (klas Oomycetes), disebut juga dengan jamur ganggang sebab sifatnya mirip dengan ganggang hanya tidak mengandung clorofil. Disusun oleh benang-benang hyfa yang tidak mempunyai sekat pemisah (septa), tetapi bercabang banyak menjadi misellium.
              Klas Phycomycetes ialah klas pertama dari jamur dan dianggap berasal dari algae, (algae-hijau), dan dalam bahasa Belanda jamur ini disebut ”Wierzwammen” . Klas ini terdiri dari 300 genera dengan 1200 spesies yang umumnya mempunyai fungsi untuk menghilangkan partikel organik yang ada dalam air tawar. (Ratentondok A., 1985).
              Menurut Srikandi Fardiaz (1992), kalsifikasi jamur Saprolegnia sp  selengkapnya adalah sebagai berikut :
Kelas       :   Phycomycetes
Subklas    :   Oomycetes
Bangsa    :   Saprolegniales
Suku       :   Saprolegniaceae
      Marga          :   Saprolegnia
Jenis           :   Saprolegnia sp
Sementara itu menurut (Meyer, F.P., 1991) Klasifikasi Saprolegnia sp adalah:  
      Dunia     :   Prototista
                   Phyla           :   Heterkonta
                Kelas           :   Oomycotea
                   Bangsa        :  Saprolegniales
     Suku             :   Saprolegniaceae
     Marga           :   Saprolegnia
                  Jenis             :   Saprolegnia spp   
Termasuk kedalam spesies jamur Saprolegnia spp adalah ; Saprolegnia australis, Saprolegnia ferax, Saprolegnia declina, Saprolegnia longicaulis, Saprolegnia mixta, Saprolegnia parasitica, Saprolegnia sporongium,  Saprolegnia variabilis.
              Klas Phycomycetes dapat dibedakan  atas ; (1) Zygomycetes, melakukan reproduksi seksual dengan membentuk spora seksual yang disebut zigospora dan (2) Oomycetes, merupakan jamur yang terdapat diperairan dan tidak umum terdapat dalam makanan. Anggota dalam Oomycetes disebut jamur tingkat rendah, spesiesnya bervariasi dari yang sederhana sampai yang lebih kompleks.  Kapang air yang sederhana bersifat uniseluler dan tidak membentuk miselium serta melakukan reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora yang motil, yang mempunyai satu atau dua flagela seperti pada protozoa. Termasuk kedalam oomyces adalah jamur Saprolegnia sp  dan Allomyces (Srikandi Fardiaz, 1992)
               
2.3            Habitat dan Morfologi Jamur Saprolegnia sp
     Jamur  Saprolegnia sp juga diistilahkan dengan jamur "air dingin" karena menyebar di air dingin, namun ia bisa hidup secara baik di air dengan suhu dari 37°F hingga 91°F (3 sampai 31°C) (Carlson 2007). 
     Pertumbuhan jamur  Saprolegnia sp pada tubuh ikan/telur atau substrat yang cocok dipengaruhi oleh suhu air. Sebagian besar saprolegniaceae mampu berkembang ( minimum ) pada suhu air antara   0 – 5 °C, tumbuh sedang pada 5 - 15°C, pertumbuhan optimum pada 15 – 30 °C, dan menurun pada suhu 28 - 35 °C. Walaupun sebagian besar ditemukan di air tawar, namun jamur ini juga toleran dengan air payau sehingga ditemukan juga hidup di air payau (Nursanto Didik Budi, 2007).
     Menurut Wilfred, dkk (1965) jamur famili Saprolegniaceae hidup di air tawar dan air asin, umumnya saprofit, menyerang insang ikan dan selanjutnya tumbuh pada jaringan setelah beberapa lama. Di dalam  air beberapa bagian dari ordo ini sering disebut water mold, yang biasa hidup ditempat tersembunyi dari daging, albumin telur atau bebas di air.
     Jamur cenderung memerlukan lingkungan asam dan melakukan aktifitas metabolisme (respirasi dan sekresi asam organik).  Sebagian besar  jamur adalah mesophilik yaitu tumbuh pada suhu 50 – 400 C, beberapa psikrophilik yaitu tumbuh dibawah 50 C dan lainnya thermotoleran dan dapat tumbuh di atas 500 C (Micklin, dkk,  1999).
               Jamur  Saprolegnia sp adalah jamur air tawar yang hidup di lingkungan air tawar dan memerlukan air untuk tumbuh dan bereproduksi. Jamur Saprolegnia sp dapat juga ditemukan di air payau dan air asin. Sementara itu  Saprolegnia sp juga digambarkan sebagai "mold",   dengan perbedaan bahwa menjadi "mold" adalah massa jamurnya. Makanan favorit dari jamur  Saprolegnia sp adalah jaringan organik yang sudah mati. Kita  dapat melihat bukti dari jamur saprolegnia pada ikan yang mati, telur ikan yang hidup dan yang mati bahkan pada makanan yang tersisa di air. Secara khusus kita melihat telur koi yang terinfeksi pertama-tama dengan jamur selanjutnya menyebar untuk membunuh telur yang subur. Telur-telur yang terinfeksi memiliki penutup seperti kapas berbenang halus. Jamur  Saprolegnia sp juga suka makan pada jaringan yang terbuka dan busuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti borok. Hal ini lazim terjadi pada kepala atau sirip ikan
     Dengan menggunakan mikroskop, akan terlihat jamur  Saprolegnia sp  tersusun atas filamen-filamen yang cenderung memiliki ujung-ujung berbentuk speris. Di ujung-ujung inilah yang menjadi rumah bagi zoospore, atau sebagai "benih" dari jamur  Saprolegnia sp, yang memungkinkan bisa berkembangbiak. Filamen-fIlamen tersebut disebut dengan hyphae dan inilah yang membuat jamur  Saprolegnia sp terlihat seperti kapas. Hyphae inilah yang menyerang jaringan ikan. Pada gambar dapat  dilihat hyphae dengan ujung-ujungnya yang berbentuk speris. Dengan menggunakan mikroskop 400x, struktur tersebut akan terlihat sama.

         

               Gambar 1.  Jamur Saprolegnia sp  

      Di air,  jamur  Saprolegnia sp terlihat seperti kapas, namun jika tidak di air akan terlihat sebagai kotoran kesat. Jamur  Saprolegnia sp memiliki warna putih ataupun abu-abu. Warna abu-abu juga bisa mengindikasikan adanya bakteri yang tumbuh bersama-sama dengan struktur  jamur  Saprolegnia sp tersebut. Selama beberapa saat,  jamur  Saprolegnia sp bisa berubah warna menjadi coklat atau hijau ketika partikel-partikel di air (seperti alga) melekat ke filament.  
     
  2.4    Reproduksi Jamur Saprolegnia sp
    Reproduksi jamur dapat berlangsung secara sexual dan asexual. Reproduksi sexual dapat berlangsung melalui: zygospora, oospora, ascospora atau basidiospora. Reproduksi sexual berlangsung melalui penggabungan inti dari dua sel (antheridium + antheridial) untuk menghasilan oogonium atau bakal jamur (Srikandi Fardiaz, 1992).
    Reproduksi asexual (somatic vegetatif) dapat berlangsung melalui dua proses yaitu sporulasi dan mycelia terpotong. Dari kedua proses tersebut, reproduksi melalui proses sporulasi umumnya lebih produktif.  Hampir sebagian besar jenis jamur akuatik mampu memproduksi spora (zoospora) berflagel dan dapat berenang bebas sehingga sangat efektif untuk penyebarannya. Spora dari jamur parasitik (obligat atau fakultatif) merupakan unit penginfeksi primer, resisten terhadap panas, kekeringan, dan desinfektan serta mampu melawan mekanisme pertahanan tubuh inang. 


 



  








     Gambar 2. Skema System reproduksi pada jamur

     Jamur  Saprolegnia sp memiliki siklus kehidupan diploid, baik dengan reproduksi seksual maupun aseksual, spora dari  Saprolegnia sp akan melepaskan zoospore utama. Dalam beberapa menit, zoospore ini akan melakukan encyst, berkecambah, dan melepaskan zoospore lainnya. Zoospora yang kedua ini memiliki siklus yang lebih lama selama dispersal terjadi;  Saprolegnia sp akan terus melakukan encyst dan melepaskan spora-spora baru didalam proses yang disebut dengan polyplanetism sampai bisa menemukan substrat yang cocok. Ketika media ditemukan tepat, maka rambut-rambut yang menutupi spora akan mengunci kedalam substrat tersebut sehingga fase reproduksi seksualnya dapat dimulai. Didalam tahap polyplanetisme juga terjadi bahwa  Saprolegnia sp dapat menyebabkan infeksi; sebagian besar spesies pathogenic memiliki kait-kait yang sangat kecil pada ujung Rambutnya untuk mendukung kemampuan infeksinya. Ketika sudah terlekatkan secara kuat, maka reproduksi seksual dimulai dimana jantan dan betinanya mengeluarkan gametangium, antheridia dan oogonium. Penyatuan dilakukan melalui tabung fertilisasi. Zygote yang dihasilkan disebut dengan oospora (Meyer, F.P., 1991).

2.5             Infeksi Jamur Saprolegnia sp pada ikan
      Selama ini, kasus saprolegniasis belum pernah dilaporkan sebagai pathogen primer pada kasus penyakit ikan. Penyakit ini sangat nyata sebagai penginfeksi sekunder, setelah dipicu oleh beberapa faktor seperti: penanganan yang kurang baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk/tidak terbuahi, dan kepadatan telur pada kakaban terlalu tinggi. Zoospore kelompok jamur ini mencari substrat yang subur (luka fisik infeksi atau telur infertile), kemudian menetap dan mulai memproduksi hypha vegetatif. Mycelia tumbuh menutupi jaringan yang luka atau tempat infeksi, kemudian menyebar ke jaringan normal di sekitar lokasi infeksi. Enzim pelisis yang dikeluarkan jamur akan merusak jaringan di sekitarnya, mematikan sel dan perkembangan mycelia semakin progresif, sangat padat dan menjulur ke air sehingga terlihat seperti kapas.
    Keberadaan ikan/telur yang mati di suatu perairan merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur. Pada kondisi tersebut produksi spora infektif juga akan berlangsung secara eksponensial, sehingga peluang terjadinya infeksi jamur pada seluruh populasi tersebut akan sangat mudah meskipun hanya dengan luka atau stressor yang sangat kecil. Hampir semua jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi ketiga jenis jamur tersebut, dan transmisi (penularan) yang paling potensial adalah melalui spora di air (horizontal transmission) .
              Menurut Carlson (2007) jamur  Saprolegnia sp umumnya merupakan patogen sekunder, meskipun dalam lingkungan yang bagus, namun tidak menutup kemungkinan ia bertindak sebagai pathogen primer. Umumnya target dari saprolegnia ini adalah ikan, baik yang hidup di alam liar ataupun yang sudah dibudidayakan. Melalui necrosis seluler dan kerusakan epidermal lainnya,  Saprolegnia sp akan menyebar ke permukaan dari host-nya seperti kapas. Meskipun sering berada di lapisan-lapisan epidermal, namun jamur ini tidak muncul pada jaringan tertentu saja. Infeksi jamur saprolegnia biasanya berakibat fatal, yang pada akhirnya menyebabkan heamodilution yaitu "penurunan konsentrasi (sebagai pendarahan) dari sel dan cairan didalam darah yang disebabkan oleh meningkatnya zat cair dari jaringan tersebut. " Hal ini menyebabkan darah kehilangan elektrolit (garam darah) dan membuatnya tidak mampu mendukung kehidupan. Selanjutnya seiring dengan penetrasi hyphae  Saprolegnia sp ke lapisan jaringan dari kulit ikan akan menyebabkan air masuk dan akan ikan mengganggu garam ikan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa ikan yang dipengaruhi oleh  Saprolegnia sp akan terlihat lethargic dan seringkali kehilangan keseimbangan, selanjutnya dapat menyebar dengan cepat ke jaringan-jaringan permukaan dari ikan tersebut. Sementara itu terkadang terjadi bahwa  Saprolegnia sp akan menyerang sampai kedalam lapisan jaringan, bahkan kerusakan dangkal pada lapisan jaringan awal ikan (dan khususnya anak ikan) dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, semakin banyak infeksi  Saprolegnia sp yang menyebar maka semakin tinggi tingkat hemodilution dan semakin kecil kemungkinan bagi si ikan untuk bisa sembuh kembali. Oleh karena itu, menangani infeksi  Saprolegnia sp harus dilakukan dengan cepat  (Meyer, F.P ., 1991).

Saprolegniasis Signs   
Saprolegnia pada ikan mas                Saprolegnia pada ikan nila         
                     

FPA Saprolegnia thumb02                 FPA Saprolegnia thumb03                     FPA Saprolegnia thumb04
Early Saprolegnia                Advanced Saprolegnia             Saprolegnia infected gill infected from infected rainbow trout               infected rainbow trout              rainbow trout fry                 


Fig. 1: infected bunnei fish.                            

                   Gambar 3.  Infeksi Jamur Saprolegnia pada Ikan


2.5.1  Gejala klinis .
·        Infeksi saprolegniasis relative mudah dikenali, yaitu terlihat adanya benang benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan. Gejala tersebut juga dapat digunakan sebagai  diagnosa awal.
·        Diagnosa juga dapat dilakukan secara laboratories dengan cara mengambil mycelia, diletakkan pada permukaan slide glas dan ditetesi sedikit air untuk selanjutnya diamati di bawah mikroskop.
·        Mycelia penyebab saprolegniasis memiliki percabangan dengan struktur hypha aseptate. Reproduksi asexual dapat diamati dari keberadaan zoosporangium pada ujung hypha:  Saprolegnia sp sp. menghasilkan zoospore primer & sekunder.
·        Saprolegnia sp biasanya ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas, berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan. Apabila anda sempat melihatnya di bawah mikroskop maka akan tampak jamur ini seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang

2 komentar:

  1. terima kasih. informasinya sangat bermanfaat.
    (Mahasiswa Akademi Perikanan Sidoarjo)

    BalasHapus
  2. makasi ya buk informasinya, sangat bermanfaat untuk tugas parasitologi kami :) :) :)
    (Bio FMIPA UNRI)

    BalasHapus