Fish

Senin, 08 Agustus 2011

IDENTIFIKASI PATOGENITAS SELULAR BAKTERI Vibrio alginolyticus YANG MENGINFEKSI BENIH IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)

Abstrak
Penelitian tentang patogenesis molekular bakteri Vibrio alginolyticus yang menginfeksi benih  ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) ini bertujuan untuk Untuk mengetahui  identifikasi patogenitas dan mekanismenya secara seluler bakteri V. Alginolyticus yang menginfeksi   benih ikan kerapu tikus C. Altivelis. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium  Fakultas Perikanan dan Kelautan UNIROW. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif  dan eksperimen, analisis data, melalui analisa   deskriptif yang  dilakukan pada pemeriksaan sifat patogenitas seluler  bakteri melalui  pengamatan sel darah dan histologi organ eksternal dan internal  dari  ikan kerapu yang normal dan ikan kerapu yang telah terinfeksi bakteri  V. alginolyticus.  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan preparat sel darah (pewarnaan Gyemsa) yang diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000x dari ikan normal dibandingkan dengan ikan yang diinfeksi baik pada infeksi pada hari ke-1, ke-2 maupun ke-3 menunjukan peningkatan jumlah neutrofil. Pada pemeriksaan organ eksternal maupun internal ikan kerapu tikus yang dilakukan secara histologi (pewarnan H&E) dengan pengamatan mikroskop cahaya pada pembesaran 400x dapat dilihat bahwa pada  kulit ikan kerapu tikus yang terinfeksi bakteri V. alginoliticus terjadi nekrosis/kerusakan sel kulit baik pada infeksi hari ke-1, hari ke-2 maupun hari ke-3, selain itu juga terlihat kehadiran bakteri V. alginoliticus pada sel kulit. Pada organ insang  menunjukan terjadinya kerusakan sel baik/nekrosis maupun edema pada lamella insang serta terdapat bakteri pada filament insang sekunder   Selain itu pada organ hati menunjukan kehadiran bakteri pada sel hati yang terinfeksi serta terjadi peradangan pada sel hati   Sedangkan pada usus ikan kerapu tikus yang terinfeksi menunjukkan terjadinya sel usus yang mengalami nekrosis 

Kata kunci : Vibrio alginolyticus, Pathogenesis, Cromileptes altivelis


1.       PENDAHULUAN
Ikan kerapu (Family Serranidae) tersebar luas di wilayah perairan tropis dan sub tropis serta merupakan makanan laut yang paling favorit di dunia (Zhou, 2008) dan merupakan salah satu jenis spesies ikan yang paling populer diantara spesies ikan yang hidup di karang yang menjadi komoditas perikanan di wilayah Asia Pasifik ( SEAFDEC, 2001).
Infeksi bakteri merupakan penyebab kematian masal pada benih ikan kerapu. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio ini merupakan masalah yang sangat serius dan umum menyerang ikan-ikan budidaya laut. Penularannya dapat melalui air atau kontak langsung antar ikan dan menyebar sangat cepat pada ikan-ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi. Penelitian Wijayati dan Hamid (1997) membuktikan bahwa bakteri yang menginfeksi ikan kerapu tikus stadia larva, fingerling, maupun induk adalah bakteri Vibrio dari jenis  Vibrio. anguilarum,   Vibrio. parahaemoliticus, Vibrio. alginolyticus, dan Vibrio. marinus. Kasonchandra (1999), mengemukakan bahwa V. parahaemolyticus dan V. alginolyticus berperan sebagai penyebab kematian pada ikan laut hingga mencapai 80 – 90 %. Seng (1994) mengemukakan bahwa pada ikan kerapu bakteri V. alginolyticus dan V. parahaemolyticus merupakan penyebab kematian yang potensial. Yanuhar (2008) menyebutkan bahwa mortalitas ikan kerapu tikus stadia larva (1-3 cm) dan fingerling (7-15) terjadi hinga 90-100%.

* Dosen Program Studi  D3 Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNIROW Tuban


 
       Tujuan dari penelitian ini  adalah
a.       Untuk mengetahui  identifikasi patogenitas bakteri V. Alginolyticus yang menginfeksi   benih ikan kerapu tikus C. Altivelis.
b.       Untuk mengetahui  mekanisme   patogenitas secara seluler bakteri V. Alginolyticus yang menginfeksi   benih ikan kerapu tikus C. Altivelis

2.       METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium  Fakultas Perikanan dan Kelautan UNIROW, sedangkan analisa sampelnya dilakukan di Laboratorium Sentral Biomedik Fakultas Kedokteran, Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedoktera  Universitas Brawijaya Malang. Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari  2011 –  Maret  2011.
Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah melakukan kultur bakteri V. alginolyticus dari isolat yang telah ada di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Brawijaya.   Dalam penelitian ini diperlukan beberapa tahapan yaitu :  kultur bakteri V. alginolyticus,  infeksi bakteri V. alginolyticus pada ikan kerapu tikus melalui metode perendaman dengan kapadatan bakteri 106 cfu/l. Dilanjutkan  pengambilan sampel sel darah (eritrosit)  dan organ usus, , hati, insang, dan kulit ikan kerapu tikus  setelah masa infeksi 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Kemudian dilakukan pembuatan preparat histologi organ dan preparasi sampel sel darah pada obyek glass dan dilakukan pengamatan dengan mikroskop.
Metode Penelitian
Penelitian ini dijalankan dengan dua tahap. Penelitian tahap pertama yang bersifat eksploratif menggunakan metode deskriptif dan penelitian tahap kedua merupakan penelitian eksperimen yaitu penelitian yang menguji hipotesis berbentuk hubungan sebab-akibat melalui pemanipulasian variabel independet dan menguji perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh pemanipulasian tadi (Subana dan Sudrajat, 2005). Efek dari manipulasi disebut varaibel dependen. Selama pemanipulasian perlakukan, dilakukan kontrol terhadap variabel luar agar perubahan yang terjadi benar-benar sebagai akibat dari pemanipulasian, bukan disebabkan variabel lainnya.
Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis data, melalui analisa   deskriptif yang  dilakukan pada pemeriksaan sifat patogenitas seluler  bakteri melalui  pengamatan sel darah dan histologi organ eksternal dan internal  dari  ikan kerapu yang normal dan ikan kerapu yang telah terinfeksi bakteri  V. alginolyticus.   Analisa secara visual melalui pengamatan secara patologis pada uji hispatologi perubahan sel  ikan yang normal dan terinfeksi bakteri V. alginolyticus.

3.HASIL PENELITIAN
 Hasil Kultur V. alginolyticus
Hasil kultur V. alginolitycus dilakukan identifikasi berdasarkan morfologi koloni, dan sifat gram. Pengamatan morfologi koloni dilakukan pada isolat murni dan terpisah. Kultur V. alginolyticus dilakukan pada media kultur yaitu nutrien agar yang ditambahkan glyserol 0,2%, kemudian dilakukan subkultur pada media BHI dan ditanam ulang pada media TCBS sebagai media selektif untuk pertumbuhan Vibrio. V. alginolyticus merupakan bakteri laut untuk membiakkan dalam media kultur perlu ditambahkan NaCl 20%.  
Koloni bakteri yang dikultur pada media TCBSA pada suhu kamar selama 24 jam, diamati bentuk koloni bakteri serta bentuk tepi pertumbuhan bakteri. Koloni V. alginolyticus pada media TCBSA adalah menyebar, tepi tajam, permukaan halus, berwarna kuning. Morfologi bakteri diamati dengan teknik pengecatan gram, selanjutnya diamati morfologi bakteri V. alginolyticus yang tampak adalah bentuk batang bengkok, gram negatif. Kultur bakteri V. Alginolyticus dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, hal ini dilakukan mengingat peralatan yang ada di Labratorium Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNIROW belum memenuhi persyratan.
   
Hasil Pengamatan Sel Darah Ikan Kerapu Tikus
Hasil pemeriksaan sel darah ikan kerapu tikus baik yang normal maupun yang diinfeksi dengan bakteri V. alginolyticus menunjukan perbedaan yang signnifikan, seperti terlihat pada gambar 1. dibawah ini
B
 
A
 
CIMG3822  CIMG3819

C
 
D
 
CIMG3804  CIMG3777

Gambar 1.  Hasil pemeriksaaan sel darah Ikan Kerapu Tikus yang diamati dengan mikroskop cahaya  pembesaran 1000x

Keterangan gambar :
(A)    Sel darah ikan normal (B) – (D)  Sel darah setelah terinfeksi bakteri V. alginoliticus Hari ke-1,  Hari ke-2  dan Hari ke-3, tanda  panah menunjukan peningkatan sel netrofil
Kulit Ikan Kerapu Tikus
Hasil pemeriksaan kulit ikan kerapu tikus secara histology baik yang normal maupun yang diinfeksi dengan bakteri V. alginolyticus menunjukan perbedaan yang signnifikan, seperti terlihat pada gambar 2. dibawah ini. 

B
 
A
 
CIMG3626 CIMG3632

C
 
D
 
CIMG3635 CIMG3649
Gambar 2. Histologi kulit Ikan Kerapu Tikus yang diamati dengan mikroskop cahaya  pembesaran 400x

Keterangan gambar :
(A)    Sel kulit ikan kerapu tikus normal (B) – (D)  kulit ikan kerapu tikus setelah terinfeksi bakteri V. alginoliticus Hari ke-1,  Hari ke-2  dan Hari ke-3, tanda  panah menunjukan sel yang mengalami nekrosis
Insang Ikan Kerapu Tikus
Hasil pemeriksaan organ insang  ikan kerapu tikus secara histologi baik yang normal maupun yang diinfeksi dengan bakteri V. alginolyticus menunjukan perbedaan yang signnifikan, seperti terlihat pada gambar 3.  dibawah ini. 
B
 
A
 
CIMG3652  CIMG3656

C
 
D
 
CIMG3661  CIMG3673
Gambar 3. Histologi organ insang  Ikan Kerapu Tikus yang diamati dengan mikroskop  cahaya  pembesaran 400x

Keterangan gambar :
(A)    organ insang  Ikan Kerapu Tikus normal (B) – (D)  organ insang  Ikan Kerapu Tikus setelah terinfeksi bakteri V. alginoliticus Hari ke-1,  Hari ke-2  dan Hari ke-3, tanda  panah menunjukan kerusakan sel pada organ insang
Hati Ikan Kerapu Tikus
Hasil pemeriksaan organ hati ikan kerapu tikus secara histology baik yang normal maupun yang diinfeksi dengan bakteri V. alginolyticus menunjukan perbedaan yang signnifikan, seperti terlihat pada gambar 4. dibawah ini. 
B
 
A
 
 

C
 
D
 
   
Gambar 4.  Histologi organ Hati  Ikan Kerapu Tikus yang diamati dengan mikroskop cahaya  pembesaran 400x


Keterangan gambar :
(A)    Organ hati ikan normal (B) – (D)  Organ hati setelah terinfeksi bakteri V. alginoliticus Hari ke-1,  Hari ke-2  dan Hari ke-3, tanda  panah menunjukan kehadiran bakteri pada sel hati
Usus Ikan Kerapu Tikus
Hasil pemeriksaan organ usus ikan kerapu tikus secara histology  baik yang normal maupun yang diinfeksi dengan bakteri V. alginolyticus menunjukan perbedaan yang signnifikan, seperti terlihat pada gambar 5. dibawah ini. 
A
 
B
 
 

C
 
D
 
 
Gambar 5.  Histologi organ usus  Ikan Kerapu Tikus yang diamati dengan mikroskop cahaya  pembesaran 400x

Keterangan gambar :
(A)    organ usus  Ikan Kerapu Tikus normal (B) – (D)  organ usus  Ikan Kerapu Tikus setelah terinfeksi bakteri V. alginoliticus Hari ke-1,  Hari ke-2  dan Hari ke-3, tanda  panah menunjukan sel usus yang mengalami nekrosis.
4.PEMBAHASAN
                 Bakteri vibrio penyebab vibriosis masih merupakan masalah utama bagi industri budidaya ikan kerapu yang menyebabkan kematian sehingga mencapai 100 persen. Bakteri patogen yang utama adalah Vibrio alginolyticus. Kondisi ini menyebabkan penanggulangan penyakit tersebut perlu mendapat perhatian dan penanganan secara khusus. Vibrio alginoliticus menyerang ikan dan organisme lainnya dimulai dari bagian lendir (mucus) yang diproduksi oleh tubuh, sebab lendir dapat menjadi media yang baik untuk perkembangan koloni bakteri sebab terdapat nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri ini.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan preparat sel darah (pewarnaan Gyemsa) yang diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 1000x dari ikan normal dibandingkan dengan ikan yang diinfeksi baik pada infeksi pada hari ke-1, ke-2 maupun ke-3 menunjukan peningkatan jumlah neutrofil (tanda panah pada gambar 6.). Peningkatan sel neutrofil ini menunjukan terjadinya perlawanan oleh sistem imun ikan karena kehadiran bakteri V. alginoliticus.  Hal ini sesuai dengan pernyataan Secombes (1996) bahwa sel neutrofi merupakan bagian dari granulosit disamping eosinofil dan basofil. Granulosit adalah komponen pertahanan bawaan utama pada sistem imun ikan. Secara umum mekanisme sistem immun vertebrata dibagi menjadi dua, yaitu immun innate (bawaan) atau non spesifik dan immun spesifik. Pertahanan non spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang sangat penting pada sistem kekebalan tubuh ikan, berupa penghalang fisik seperti kulit dan sisik, enzym litik pada lendir dan serum, serta sel-sel kekebalan non spesifik yang terdiri dari monocyte dan macrofag, neutrophil, dan natural killer cells. Mekanisme pertahanan tubuh non spesifik merupakan lapis pertama kekebalan tubuh, sifat responnya non spesifik, langsung bereaksi secara maksimal, mempunyai komponen humoral dan seluler (http://id.wikipedia.org/wiki/immunity).
Pada pemeriksaan organ eksternal maupun internal ikan kerapu tikus yang dilakukan secara histologi (pewarnan H&E) dengan pengamatan mikroskop cahaya pada pembesaran 400x dapat dilihat bahwa pada  kulit ikan kerapu tikus yang terinfeksi bakteri V. alginoliticus terjadi nekrosis/kerusakan sel kulit baik pada infeksi hari ke-1, hari ke-2 maupun hari ke-3, selain itu juga terlihat kehadiran bakteri V. alginoliticus pada sel kulit.  (Gambar 7.) Pada organ insang  menunjukan terjadinya kerusakan sel baik/nekrosis maupun edema pada lamella insang serta terdapat bakteri pada filament insang sekunder (Gambar 8). Selain itu pada organ hati menunjukan kehadiran bakteri pada sel hati yang terinfeksi serta terjadi peradangan pada sel hati (Gambar 9). Sedangkan pada usus ikan kerapu tikus yang terinfeksi menunjukkan terjadinya sel usus yang mengalami nekrosis (Gambar 10).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rajan, et al (2001) yang menemukan bakteri bentuk tongkat pada sel kulit, dibawah permukaan otot, dan  insang  pada ikan Cobia (Rachycentron canadum), serta menemukan hyperplasia pada insang, lamella insang yang menyatu dan juga ditemukan perembesan haemocytic. Bailey (1982) menjelaskan  bahwa kulit merupakan portal of entry dari bakteri. Dengan mudah bakteri akan terpenetrasi melalui sel epitel untuk masuk ke dalam sel inang sebelum secara sistemik menyebar ke organ termasuk lien.  
Wang dan Leung (2000) mengatakan Vibriosis menyebabkan gejala septicemia dengan luka menyebar pada kulit, terjadi nekrosis pada liver, speen, ginjal dan jaringan yang lain. Vibrio alginoliticus menyerang ikan dan organisme lainnya dimulai dari bagian lendir (mucus) yang diproduksi oleh tubuh, sebab lendir dapat menjadi media yang baik untuk perkembangan koloni bakteri sebab terdapat nutrisi yang dibutuhkan oleh vibrio ini. Selanjutnya menurut Irianto (2005) dikatakan bahwa tanda-tanda klinis infeksi vibrio adalah terjadi septikemia, hemoragik pada kulit, insang dan ekor, borok pada kulit, hemorhagik pada jaringan otot, dan permukaan serosal. Limpa ikan yang terinfeksi akan mengalami pembengkakan dan mungkin berwarna merah cerah. Secara histologis hati, ginjal, limpa dan mukosa usus mengalami nekrosis.
Penyakit vibriosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio spp. Bakteri ini tergolong dalam famili Vibrionaceae, yang mempunyai tubuh berbentuk batang dan mempunyai kemampuan untuk bergerak karena dilengkapi dengan flagel (Kordi, 2003). Vibriosis ditandai oleh perubahan warna kulit (melanosis), munculnya luka nekrotik hemorragik pada jaringan otot abdominal, dan eritema pada pangkal sirip, celah insang dan mulut, sedangkan intestinum dan rectum mungkin membesar dan berisi cairan bening, dimungkinkan pula terjadi eksotalmia (Wijayati dan Hamid 1997). 

Mekanisme Patogenitas
    Patogenesis pada ikan kerapu disebabkan adanya pengenalan antara molekul reseptor yang dimiliki ikan kerapu dengan molekul adhesin bakteri. Menurut Bally and Schott, 2007 dalam Yanuhar, 2008 menyatakan bahwa adhesin bakteri secara tipikal merupakan komponen makromolekul pada permukaan sel bakteri yang berinteraksi dengan sel inang. Adhesin dan reseptor biasanya berinteraksi dengan komplemen dan menunjukkan suatu ikatan yang spesifik. Pascale et al (2000), menjelaskan bahwa pathogen akan mendapatkan respon yang kuat dari hospes. Terdapat dua faktor yang menjelaskan mekanisme ini, adalah pathogen memiliki serangkaian molekul yang mengaktivasi hospes. Kedua adalah pathogen memiliki molekul aktivasi hospes lebih efisien terhadap sel sehingga terjadi hubungan aktivasi respon hospes terhadap daya survivalnya.  Hubungan antara hospes dengan pathogen melibatkan molekul adhesin yang ditemukan pada ECM seperti kolagen, fibrinektin dan protein matrik lainnya atau melibatkan protein reseptor adhesin seperti integrin, selectin, cadherin dan kelompok immunoglobulin pada sel hospes
    Perlekatan bakteri terhadap permukaan mukosa sel eukariot atau permukaan jaringan membutuhkan dua faktor yaitu protein reseptor dan adhesin. Reseptor merupakan molekul karbohidrat spesifik pada permukaan membran sitoplasma sel eukariot yang diperankan oleh protein, terdiri atas gugus H (hidrogen), NH2 (amino) dan COOH (karboksil). Tahap awal terjadinya infeksi oleh Vibrio pada sel inang diantaranya diperankan oleh faktor virulensi bakteri seperti pili. Proses selanjutnya adalah kolonisasi dan penyebaran bakteri secara sistematik serta produksi toksin. Perlekatan bakteri pada sel hospes diperankan protein adhesin yang identik dengan protein haemaglutinin.
Proses infeksi bakteri vibrio diawali dengan interaksi dengan perlekatan atau adesi pada permukaan sel inang. Pada permukaan sel inang terdapat reseptor, Reseptor merupakan molekul karbohidrat spesifik pada permukaan membran sitoplasma, yang diperankan oleh protein. Reseptor pada ikan kerapu dapat diperankan oleh protein yang berasal dari superfamili immunoglobulin, cadherin, integrin dan selectin (http://id.wikipedia.org/wiki/adhesi). Peran molekul reseptor berpengaruh terhadap ekspresi protein dalam mengikat ligannya, seperti protein adhesin yang berasal dari bakteri dan virus. Proses yang menyebabkan terjadinya infeksi bakteri diawali dengan perlekatan, kolonisasi, kemudian invasi. Sistem perlekatan bakteri diperankan oleh molekul adhesin bakteri dan molekul reseptor pada hospesnya (Todar, 2002).
Jalur penyebaran infeksi vibrio yang tepat belum jelas, tetapi transmisi dicurigai lewat mulut. Untuk mengisolasikan Vibrio spp. dari bagian tubuh yang berhubungan dengan usus secara klinis dari ikan normal. Di bawah kondisi-kondisi tertentu, bakteri mungkin mampu untuk memotong dinding usus, menghasilkan penyakit systemic. Pada saat serangan terjadi, banyaknya partikel yang cepat menyebar didalam lingkungan meningkat secara dramatis, sehingga meningkatkan kesempatan vibrio yang menyebabkan ikan akan terinfeksi. (Reed P. A and Floyd R.F., 1994)
Proses infeksi akan menyebabkan perubahan ekspresi protein reseptor pada organ ikan. Yanuhar (2006), mengatakan bahwa fungsi reseptor pada ikan kerapu sebagai pengikat ligand/antigen sangat berperan dalam menjaga mekanisme terjadinya kerusakan dan kematian sel ikan, karena reseptor mempunyai fungsi barrier dalam memelihara fisiologis sel, hubungan antar sel, memelihara dinamik adhesi antar sel dalam membentuk kelangsungan hidup sel dan menjaga permeabilitas cairan dan larutan tubuh dalam melintasi jalur paraseluler secara seluler harus dipertahankan dari infeksi patogen guna mendapatkan survival sel hospes. Organ mempunyai molekul sitokin, limfokin, interferon, secretory immunoglobulin, yang dapat digunakan untuk mencegah masuknya protein adhesin bakteri ke dalam reseptor hospes (Balley and Scoot, 2007).
Reseptor merupakan molekul karbohidrat spesifik atau residu peptida pada permukaan membran sitoplasma sel eukariotik yang diperankan oleh protein, terdiri dari gugus H, NH2 dan COOH (Nataro and Kaper, 1993 dalam Yanuhar, 2006). Protein berasal dari bahasa Yunani proteios yang berarti pertama atau utama. Protein merupakan makromolekul yang menyusun lebih dari separuh bagian dari sel. Protein menentukan ukuran dan struktur sel, komponen utama dari sistem komunikasi antar sel serta sebagai katalis berbagai reaksi biokimia di dalam sel.  Protein merupakan senyawa organik komplek yang tersusun atas asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat (Michael, et.,al. 1988). Komponen reseptor terdiri dari molekul protein yang melekat pada membran sel, bertindak sebagai penerima suatu zat yang akan masuk/merangsang sel. Konfigurasi permukaan molekulnya setangkup dengan konfigurasui permukaan molekul zat yang diterima, kemudian membentuk kompleks. Kompleks tersebut bisa masuk ke dalam sel, artinya zat yang diterima dibawa masuk sel; bisa pula hanya merangsang sel untuk aktif bermetabolisme atau bermitosis, yang berarti zat tersebut tidak dibawa masuk sel. Reseptor ibarat lubang kunci, dan zat yang diterima sebagai anak kunci. Karena itu reseptor dengan zat yang diterima bersifat khas, yang berarti tiap zat memiliki reseptor khas dengan membran sel. Reseptor dihasilkan oleh gen, dan gen yang berbeda, berbeda pula reseptornya. Jika terjadi mutasi pada gen suatu reseptor, maka penerimaan suatu zat akan terganggu   (http://id.wikipedia.org/wiki/receptor).
                Penelitian Murjani (2002) telah menghasilkan karakter protein yang paling virulen dari isolat extra cellular product (ECP) dengan bobot molekul 46,03 kDa. Fraksi ECP yang mempunyai peranan dalam mortalitas ikan adalah dua komponen pokok yaitu toksin dan ensim. Deane et al (2004) menyatakan fraksi ECP dari vibrio pathogen sangat berperan selama penyerangan dan komponen enzimatik dari fraksi ini merupakan faktor penting  untuk invasi, bertahan hidup dan proliferasi pada sel hospes. Karakteristik biokimia sebagian fraksi ECP dari V. alginolyticus menunjukkan adanya enzim (kasein, gelatin, amylase, lesitin, lipase, chitin dan protease). Pada beberapa kejadian aktifitas protease V. alginolyticus merupakan faktor sangat penting untuk virulensi dan purifikasi protease dari vibrio merupakan racun pada ikan dan kerang.

5.KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
·       Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan identifikasi patogenitas pada ikan kerapu tikus yang terinfeksi bakteri V.alginolitycus dapat dilihat pada sel darah yang menunjukan peningkatan jumlah neutrofil, serta  secara histology organ kulit  ikan kerapu tikus yang terinfeksi bakteri V. alginoliticus terjadi nekrosis/kerusakan,organ insang  menunjukan terjadinya kerusakan sel baik/nekrosis maupun edema pada lamella insang serta terdapat bakteri pada filament insang sekunder, pada organ hati menunjukan kehadiran bakteri pada sel hati yang terinfeksi serta terjadi peradangan pada sel hati dan pada usus   menunjukkan terjadinya sel usus yang mengalami nekrosis.
·       Bakteri V. alginoliticus terbukti dapat mengakibatkan penyakit pada ikan kerapu tikus  dengan bentuk serangan yang disebut dengan Vibriosis.  Tanda-tanda klinis infeksi vibrio adalah terjadi septikemia, hemoragik pada kulit, insang dan ekor, borok pada kulit, hemorhagik pada jaringan otot, dan permukaan serosal. Limpa ikan yang terinfeksi akan mengalami pembengkakan dan mungkin berwarna merah cerah. Secara histologis hati, ginjal, limpa dan mukosa usus mengalami nekrosis.
·       Mekanisme patogenitas bakteri V. Alginoliticus pada ikan kerapu tikus melibatkan sistem imun ikan.
Saran
                Mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan dari serangan bakteri V. alginoliticus maka perlu dilakukan identifikasi bakteri pathogen pada perairan laut Tuban terutama disekitar daerah pertambakan untuk dapat melakukan pencegahan pada penyakit Vibrosis.



DAFTAR PUSTAKA

Ae Park, M., Sohn, and Sang-Gyu.  2001.  Status of Desease of Seves Band Grouper Epinephelus septemfasciatus, in Korea RO. Pathology Devision. South Sea fisheries research Institute. National Fisheries research and Development  Institute. p. 35-37.
Abbas, K.A, Lichtman, A.H. Pober, J.S,. 2000. Cellular and Molucular Immunology. W.b Saunders company. Toronto.
Antoro, S., E. Widiastuti dan Hartono. 1999. Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cramileptes altevalis). Departemen Pertanian, Dirjen Perikanan. BBL Lampung. 85 Hal.
Baratawidjaja, KG, 1996. Imunologi Dasar Edisi Ketiga, Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Brogden, K.A., Roth, J.A., Stanton, T.B., bolin, C.A., Minion, F.C., Wannemuehler, M.J. 2000. Virulen mechanisms of bacterial pathogen. American Society for Microbiology. ASM Press. Washington, DC.
Brooks, G. F., J.S., Butel, and S.A. Morse., 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Penerjemahan : Eddy, M., Kuntaman, Eddy Bagus, W, Ni Made, M., Setio., Lidawati. A. Salemba Medika. Jakarta. 528 hal
Burgess’s, W.E., H.R. Axelrod and R.E Hunziker. 1990. Atlas of Marine Aquarium Fishes. Second edition.THF Publication, Inc. 768 p.
Chou, H.Y. Hsu, C.C., and Peng, T.Y. 1998. Isolation and characterization          of a pathogenic iridovirus from culture grouper (Epinephelus sp.)           in Taiwan.
Gene Bank. 2003. Classification of Vibrio alginolyticus.
Johnny, F., Des Roza, I. Koeshariyani, K. Mahardika dan K. Yuasa. 2000. Penyakit Bakterial Pada Ikan dan Krustase Laut dan Pengendaliannya. Texbook For The Training Course on Fish Disease Diagnosis. LOLITKANTA-JICA Booklet No. 12. Pp.53-61.
Irianto Agus, 2005. Patologi Ikan Teleostei. Yogyakarta. 256 Hal.
Kasonchandra, J. 1999. Bacterial and Viral Disease in Tropical Marine. Finfishes. Country Report. FAO-NACA-OIE-Regional Programme for                 The Development of Technical Guidelines and Quarantin and Health Certification and Establishment of Information System For  The Responsible Movement of Live Aquatic Animals in Asia. Bangkok.
Kordi, G. 2003. Penanggulanggan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka Cipta dan Bina Adiaksa. Jakarta. 194 hal
Leon J, G., Villamil, L., Lemos,  M, L., Novoa, B and Figu, A. 2005. Isolation        of Vibrio alginolyticus and Vibrio splendidus from Aquacultured Carpet Shell Clam (Ruditapes Decussatus) Larvae Associated With Mass Mortalities. Applied And Environmental Microbiology, P. 98–104.
McEvoy  E, G., Rogers, A and Gibson, R. 1998.  Preliminary investigation of Vibrio alginolyticus like bacteria associated with marine nemerteans Hydrobiologia 365: 287–290
Mookherjee, N and L. Madera. 2007. Molecular Bacterial Pathogenesis. Microbiology. 403.
Murdjani, 2002. Identifikasi dan Patologi Bakteri Vibrio alginolyticus pada Ikan Kerapu Tikus. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Universitas Brawijaya.
Muslim, A. B. dan S. Sakhur. 2003. Manajemen Pengelolaan Induk Kerapu. Materi Pelatihan Teknis Pembenihan Multispesies Bagi Pengelola Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Angkatan I> Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo. 10 hal
Michael, J. Pelczar, Jr., dan E.C.S.Chan, 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jilid 2. Penerbit  Univertas Indonesia, Jakarta
Nybakken, J. W. 1998. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia. Jakarta.   459 hal.
Purnamasasi, S.D. 2008. Produksi Antibodi Anti Pili Aeromonas salmonicida Sebagai Rapid Diagnostik. Tesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Brawijaya. Malang.
Rambukkana et al., 1998. Role of a-dystroglycan as a schwann cell receptor      for Mycobacterium leprae. Science. 
Randall, J.E., 1993 A Preliminary synopsis of the grouper (Perciformes: Serranidae, Epinephelinae) of the indo-Pacific Region. In Tropical Snappers and Groupers: Biology and fisheries management.            (Eds. Polovina, J.J., S. Ralston). Westview Press, Inc., Landon.
Rajan, P.R, Carmen L. John H., You L., Hue L.Y. 2001. Vibrio alginolyticus in cobia (Rachycentron canadum) cultured in Taiwan. Bull. Eur. Ass. Fish Patologi. 21(6)2001.
Secombes, C.J. (1996) The Non Spesific Immune System: Celluler Defenses dalam Iwama, G.; and Nakanishi, T. (Eds) The Fish Immune System , Academic Press. San Diego. Hal 63 -105
Seng, L. T., 1994. Parasites and diseases of cultured marine finfish in South East Asia. Pusat Pengkajian Sains Kajihayat, University Sains Malaysia. 25p
Tampubolon, G.H and E. Mulyadi. 1989. Synopsis Ikan kerapu Di Perairan Indonesia.
Tendencia, E, A and Pitogo , C, R, L. 2007. Bacterial Diseases. www.rfdp.seafdec.org.ph/
Todar, K., 2002. The Mechanism of Bacterial Pathogenecity. Todar’s Online Textbook of Bacteriology. University of Wisconsin-Madison Department of Bacteriology. P 1-18.
Weber and L.F. de Beafort. 1931. The Fishes of Indonesia-Australia Archipelago. Leiden.
Wijayanti, A dan Hamid, N. 1997. Identifikasi Bakteri pada Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis). Pertemuan Koordinasi dan Pemantapan  Rekayasa Teknologi Pembenihan Lintas UPT Direktorat Jenderal Perikanan. BBAP Jepara. Ditjen Perikanan.
www.ciad.mx/alginolyticus_TCBS.png.Collection of Aquatic Important  Microorganism. 4 Februari 2009.
Yanuhar, U., 2006. Karakterisasi dan Identifikasi Molekuler Protein Adesi Pili Vibrio alginolyticus dan Reseptornya pada Ikan Kerapu Tikus Cromileptes altivelis (Studi Kajian Molekuler Patogenesa Vibriosis). Program Doktor Ilmu Kedokteran. Program Pascasarjana. Universitas Brawijaya. Malang










1 komentar: